Minggu, 15 Juli 2012

Aco dan Kenangan Tentangnya


Entah mengapa, kata ACO tiba-tiba terlintas begitu saja di memoriku senja ini. Lintasan yang kuat tentang kenangan hampir empat tahun silam, saat saya masih diwajibkan memakai rok hitam dan jilbab segitiga polos ke kampus. Kenangan tentang tiga huruf ini, membuatku buru-buru membuka laptop dan menarikan jemari di tuts-nya usai sholat, senja ini. Yah, beginilah mungkin, saat ada “klik” yang mendorong kita ingin menulis. Kembali mengeja kenang, merangkainya dalam deret huruf, untuk kemudian merasa terpuaskan karena telah mengikat makna yang sebelumnya hanya tersimpan rapi di salah satu sudut otak.
            ACO. Ah, tiga huruf yang simple tapi selalu saja berhasil mengukir senyum. Berawal saat saya baru saja menginjakkan kaki dan resmi sebagai Mahasiswi Farmasi Universitas Hasanuddin. Jangan bayangkan jadi maba, yang ada enak-enaknya saja. Huft… Sepertinya banyakan susahnya kali ya… Nah, di awal jadi mahasiswa itulah saya dapat banyak pengalaman dan pengajaran dari senior. Salah satunya yang paling berkesan dan bisa kutarik benang merahnya hingga saat ini, ya kata ACO.
            Ceritanya, waktu itu, maba diwajibkan mengisi buku pengumpulan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan senior. Masalahnya, minta tanda tangan itu, gak sekadar minta, trus langsung dikasi. Syaratnya panjang… Harus hapal ini, harus cari itu, harus ini, harus itu, harus ini lagi, harus itu lagi, dan harus harus yang lain…^^v
            Nah, saat meminta tanda tangan seorang senior yang waktu itu juga menjabat sebagai pengurus inti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Tahu kan BEM? Orang-orangnya disegani plus ditakuti sama maba… hi hi hi… Saya gak langsung dikasi tanda tangan. Syaratnya, harus cari apa itu ACO! “Besok, ketemu saya lagi, dan sudah harus tahu apa itu ACO,” katanya santai.
            Jadilah, saya pusing tujuh keliling karena tiga huruf itu. Sepulang kuliah, waktu itu sekitar pukul 17.00 WITA, saya bersama seorang teman, berjalan sepanjang Pintu 1 Unhas hingga PK 7. Jaraknya, emm… sekitar 1 kilometer. Dekat sih, tapi, dalam kondisi puasa dan menjalani hari yang berat karena pengumpulan dan tugas, plus malamnya tidur cuma seiprit, ini bisa jadi hal paling menyebalkan. Untuk apa? Untuk kata ACO! Kata seorang senior, “adaji  itu di pinggir-pinggir jalan bisa dilihat apa itu ACO.”
            Magrib menjelang, waktu buka puasa tiba, dan saya masih berada di pinggir jalan mencari apa itu ACO. Saya sempatkan meneguk Teh Kotak, sambil terus meraba, apa maksud perkataan senior itu. Di Pinggir jalan? Mana?
            Tiba-tiba teman yang bersama saya membuyarkan lamunan. Sambil menunjuk sebuah reklame yang memajang foto Walikota Makassar sedang tersenyum manis. Di atasnya tertulis, “ACO mengucapkan, Selamat menjalankan ibadah puasa”. Wow…. Saya girang bukan main. Ternyata, ACO itu nama akrabnya si bapak walikota. Baru tahu saya… ^^
            Esoknya, karena merasa sudah memenuhi tugas yang diberikan, saya menghadap senior itu kembali dengan wajah riang. Saat ditanya tentang tugas, saya dengan cepat menjawab, “ACO itu nama akrabnya Bapak Walikota Makassar,” (sambil unjuk gigi, hehehe). Sontak, beberapa senior yang ada di situ tiba-tiba tertawa sekeras-kerasnya. Saya bingung, muka saya memerah, suasana hati berubah tak menentu, bertanya, malu, dan ingin tahu, kenapa…
            Setelah puas dengan tawanya masing-masing dan suasana sudah agak tenang, si senior menjelaskan, “benar, ACO itu panggilan akrabnya pak walikota, tapi bukan itu yang saya maksud. Ngapain juga saya kasi tugas tidak berbobot seperti itu… Saya kasi tau ya, ACO itu singkatan dari Akademik Cinta dan Organisasi…,” terangnya sambil terus menahan tawa.
            “Ooooooooouuuuwwwwww…..” ucapku menimpali sambil memilin ujung jilbab.
            Si senior melanjutkan penjelasannya. Dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, jangan hanya terpatok pada satu hal saja. Jangan hanya pada akademik, jangan hanya organisasi, dan juga jangan hanya cinta. Jangan juga mengambil dua hal dan meninggalkan salah satunya.
            Akademik, cinta, dan organisasi…
            Yah, tiga kata ini selalu melekat di memori dan sudut hati. Sembari kembali mengurai kenang, perjalanan selama hampir empat tahun berstatus mahasiswa. Sangat banyak hal tak terduga yang mewarnainya. Tentang persaingan akademik, Tentang romantika cinta sesame mahasiswa, dan dinamika organisasi. Rasanya, manis asam asin… hehehe…
            Pertama, akademik. Siapa yang tak ingin punya IPK tinggi, nilai A berderet di Kartu Hasil Studi, sehingga bisa unjuk gigi saat bertemu dengan PA… Ya, karena prestasi akademik, kita rela mengurangi jatah tidur menjadi 3-4 jam sehari, bahkan pernah saat ujian praktikum, tidur hanya sejam. Karena keinginan meraih prestasi akademik, kita rela memelototi buku-buku tebal, menghapal nama-nama obat, merek dagang, struktur kimia, nama perusahaan obat… Karena nilai A, kita rela membiarkan jemari menari bersama pena semalam suntuk, hingga lupa mendirikan sholat lail dan lebih asyik mengejar penyelesaian laporan yang bertubi-tubi. Merekam kembali semua itu, rasanya tak dapat menahan senyum dan rasa haru. Bahwa ternyata, kita pernah begitu kuatnya, begitu tangguhnya. Saat capek, saat mengeluh seusai sholat dhuhur di musholla, kita saling menguatkan. Saya rindu kalian… Saya rindu melihat tidur pulas karena kecapekannya kalian saat kita istirahat sholat…
            Sekarang, waktu melaju begitu kencangnya. Meninggalkan masa, dan membuktikan bahwa perubahan itu mutlak. Sekarang, kita telah dengan sibuknya, dipisahkan oleh waktu dan keadaan, hingga untuk saling bertemu muka di kampus pun sangat sulit. Yah! Kita memang tak dapat menerka, perubahan seperti apa yang tertakdir untuk kita. Namun, semoga kenang itu, masih utuh di sudut hati masing-masing kita.
            Kedua, Cinta. Wooow, kata ini rasanya cukup menyengat. Rasa-rasanya, saya tak perlu panjang lebar di bagian ini. Sebab masing-masing kita punya cerita. Masing-masing kita mengalaminya. Namun semoga, ia hanya tertambat dan hanya terungkap pada yang berhak saja…^^
            Ketiga, Organisasi. Selain akademik, unsur ini jadi hal cukup penting dalam upaya pengembangan skill. Akan pincang, jika kita hanya fokus di akademik, tanpa ingin terlibat dalam organisasi. Di wadah inilah kita coba membangun relasi social, agar nantinya kita tak hanya jadi robot pesuruh yang dimanfaatkan ilmunya, tapi bisa menjadi pembawa perubahan, bisa menjadi control social. Agar nantinya, universitas ini tidak melahirkan lulusan-lulusan yang serakah, egois, dan tidak memiliki kepekaan social. Namun sangat diharapkan bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang professional. Bisa jadi pohon yang berbuah manis, di manapun ia ditanam.
            Di kampus kita, banyak sekali organisasi yang menunggu bakat-bakat kita. Tinggal memilih. Saya, misalnya, tiba-tiba terpaut di jurnalistik, meski sebelumnya tak pernah terlintas akan ke bidang ini. Dengan organisasi, kita bisa menjadi mahasiswa plus plus… percaya deh…^^


Dalam ruang bercat hijau muda,
Di tengah kegalauan menyelesaikan skripsi
Dan di tengah ketidakpastian akan kondisi kesehatan
Maros, 15 Juli 2012