Tak ada jingga di senja hari ini. Hanya rinai hujan yang menemani langkahku sore tadi. Menyusuri jalan setapak, melintasi Fakultas Teknik dengan sejumlah pemuda yang terlihat asyik memperebutkan sebuah bola di lapangan. Yah, tak ada yang istimewa. Rutinitas sore yang selalu datar-datar saja.
Aku tiba di kosan beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Masih seperti biasanya—yang datar-datar saja—aku menampakkan raut wajah lelah ke teman-teman yang sedang asyik bercengkrama di beranda kos. Sedikit mengulum senyum, lalu beranjak ke kamar tanpa mengucap kata sepatah pun.
Namun, kali ini ada yang tak seperti biasanya. Obrolan dua orang teman di beranda nampak sedikit serius sore tadi. Yang satunya terdengar selalu memilih intonasi tinggi. Sedang yang satunya menimpali dengan suara agak merendah.
Obrolan mereka lamat-lamat terdengar. Aku mendengar kata “rumah sakit, pasien, dan dokter”. Karena kunci kamar belum juga kutemukan, aku memutuskan kembali ke beranda dan mendengar lebih utuh, apa yang tengah mereka persoalkan. Pikirku, tiga kata itu tak jauh-jauh dari profesiku sebagai seorang yang selalu berkutat dengan teori pengobatan.
“Dokter itu tak punya nurani ya?! Pasien sudah kesakitan malah dicuekin. Nanti setelah pasiennya pingsan, baru mereka bertindak. Ke mana sumpah mereka dulu?” kata itu yang kutangkap pertama kali saat membaur bersama mereka. Aku mengernyitkan kening, lalu melontarkan sebuah tanya, “kenapa kak? Ada apa dengan dokter?”
Orang yang kupanggil dengan sebutan Kak itu lalu mengulang kisahnya. Beberapa hari yang lalu, katanya, saat ia mengantar seorang rekan ke sebuah rumah sakit milik pemerintah, hal tak mengenakkan hati membuatnya sedikit memberontak dan mempertanyakan esensi sumpah seorang dokter.
Waktu itu ia melihat seorang ibu yang terlihat sangat tersiksa menahan sakit di perutnya. Herannya, tak ada satu orang dari pihak rumah sakit pun yang memedulikannya. Parahnya lagi, ia melihat beberapa orang dokter hanya berbincang sambil tertawa-tawa di sebuah ruangan yang tak jauh dari ibu yang kesakitan itu. Tak lama berselang, si ibu pingsan. Karena muak melihat tingkah para dokter dan jajarannya ini, ia berteriak ke arah dokter, “Eh, saya kira kalian pernah bersumpah. Lalu, ke mana sumpah itu sekarang? Kenapa kalian membiarkan pasien ini kesakitan hingga pingsan?”
Intonasinya meninggi saat mengucap kata terakhir. Aku mulai paham apa yang membuatnya geram. Teman yang satunya turut menimpali dengan menceritakan pengalaman yang tak jauh berbeda. Yah, semuanya tentang “buruknya pelayanan di rumah sakit.”
Aku tak berkomentar sedikitpun. Hanya hatiku yang bergetar, disusul memori-memori kekecewaan terhadap pelayanan di rumah sakit.
Memori itu rasanya semakin lekat saat aku memasuki kamar dan berbincang dengan hati. Kalau berbicara soal “tak becusnya para pekerja di bidang kesehatan”, aku pun memiliki banyak kisah.
Pernah suatu hari di tahun pertama aku berstatus mahasiswa, aku dibentak seorang dokter saat membawa teman ke rumah sakit karena kecelakaan. Waktu itu aku sendirian. Tak terbayang bagaimana paniknya yang kurasa saat itu. Tak pernah sebelumnya aku membawa seseorang ke rumah sakit. Apalagi karena kecelakaan, yang membutuhkan pertolongan dengan cepat. Batinku berontak saat itu. Satu jam berselang, tak ada dokter atau perawat atau pegawai manapun yang peduli dengan kami. Aku lalu bergumam dalam hati, “apa harus urus administrasi dulu ya, baru dilayani?”
Seingatku, dulu aku hanya disuruh nunggu. Karena menurutku nunggunya sudah kelamaan, aku mulai protes (ala mahasiswa baru yang mulai ditanamkan idealisme di pengkaderan, hehe). Kulihat, beberapa orang yang memakai papan nama bertuliskan “Dokter Muda” berkerumun mengelilingi temanku. Berbincang sebentar, menyebut beberapa istilah yang sedikit banyak kupahami. Heranku, mereka hanya berkerumun, melihat sebentar, kemudian pergi. Tak melakukan apa-apa. Gumamku, ah, mereka ini baru mau belajar ya?
Aku kemudian mendatangi seorang dokter yang terlihat lebih senior. Memprotes, kenapa belum ada tindakan sama sekali untuk mengurangi rasa sakit yang sedari tadi ditahan oleh temanku. Tanpa berpikir panjang, aku melontarkan sebuah kalimat yang membuat dokter itu naik pitam. “Dok, sekarang bukan waktunya belajar dan mengajar. Sekarang itu waktunya aplikasi, praktik! Bagaimana jika pasien Anda meninggal sebelum Anda paham dengan apa yang Anda pelajari itu?”
Ia menatap saya, tajam! Lalu berkata, “ah, kamu ini anak kecil tau apa?” Aku tak membalas perkataannya. Hanya memasang wajah manyun, tanda tak senang dengan pelayanan di RS ini. Aku membatin, katanya ini RS terkenal di Makassar. Apa bagusnya ya? Lagipula, dokter itu nda tau ya, aku tau apa yang mereka perbincangkan tadi. Aku tau istilah-istilah yang mereka sebutkan tadi, aku ini kan belajarnya di Farmasi… (hehe… tertawa sendiri kalau ingat masa itu)
Kawan, itu hanya sekelumit kisah tentang betapa belum profesionalnya para pelayan kesehatan sekarang. Itu baru satu bidang, belum bicara bidang lain, Farmasi atau apoteker misalnya. Yang selama ini kujumpai, belum ada pelayanan informasi obat dari apoteker-apoteker yang bertugas di RS. Apotek, akhirnya hanya jadi semacam ‘warung’. Bedanya, isinya hanya obat. Apoteker pun tak lebih dari sekadar ‘penjaga warung’. Duduk di belakang meja, menunggu keluarga pasien datang membawa resep, kemudian memberikan obat sesuai dengan daftar obat yang ada di resep itu. Tak pernah sekalipun aku menemui atau mendengar cerita, bahwa mereka memberikan pelayanan informasi obat. Tentang obat apa yang sebenarnya bisa diganti dengan yang lebih murah, namun berkhasiat sama (jika pasiennya tergolong berpenghasilan rendah). Tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat itu, dan hal urgent lainnya.
Mungkin, para dokter dan apoteker akan geram jika membaca tulisan ini. Tapi, seperti itulah yang terjadi Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyoya… Aku tahu, kita diajarkan etika profesi di bangku kuliah. Bahkan, aku pernah mengambil sebuah matakuliah dan praktikum simulasi aktivitas di apotek. Kesimpulanku dari praktikum itu, sangat idealis dan sangat beretika. Kita diajarkan bagaimana mendahulukan kepentingan pasien dan memberikan hak-haknya. Bagaimana berdiskusi dan konfirmasi dengan dokter jika ada peresepan yang dianggap keliru atau dapat diganti. Yah, teori hanyalah teori. Hingga detik ini, tak lebih dari dua RS di Indonesia yang kuketahui menerapkan informasi pelayanan obat ini. Wallahu a’lam…
Maka, seperti itulah mungkin, jika dalam pembelajaran kita terlalu ditekankan pada sisi ilmiahnya saja, tanpa menyentuh human-nya. Aku melihat dan membaca, betapa bangganya mereka yang telah di”sumpah” sebagai seorang dokter atau apoteker atau ners, dsb. Tapi, tahukah mereka, sumpah itu didengar oleh Dia Yang Maha Mendengar. Diketahui oleh Dia yang Maha Tahu. Dicatat oleh Dia yang Maha Teliti. Dan kelak, akan dimintai pertanggungjawabannya. Sadarkah mereka, pasien dan keluarga pasien menganggap mereka seolah Sang Dewa Penyelamat. Adakah sedikit kepekaan dari mereka, bahwa sekilas senyum tulus dan kata-kata bijak yang mereka ucapkan, jika disertai keramahan bisa jadi obat yang mengalahkan khasiat obat-obat sintetik yang bertebaran di apotek.
Engkau, yang telah mengucap sumpah itu… Pekalah dan bersikaplah professional. Engkau ada dan diterima, karena mereka ada, pasien kalian… Kalian tak ada apa-apanya jika tanpa mereka. Berhentilah bersikap eksklusif!
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 Maret 2012
Engkau yang Pernah Mengucap Sumpah
Sejam Lebih
Kepalanya menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya di balik ujung jilbab cokelat yang dikenakannya. Ia, seorang perempuan paruh baya. Mungkin berumur 60-an tahun. Ia sepertiku, menunggu keluarga yang sedang dioperasi di rumah sakit ini. Mungkin ia menangis, menumpahkan segala beban yang yang ditahannya sejak sejam yang lalu. Atau mungkin sudah beberapa hari yang lalu.
Sudah sejam lebih aku mengamatinya dari bangku di pojok koridor ruang operasi ini. Sesekali menghampirinya, bertanya, kemudian memberikan sedikit solusi yang entah bermanfaat atau tidak.
Sejam lebih, ia berat mengucapkan barang sepatah kata. Sejam lebih, aku melihat mimiknya seolah menanggung beban yang sangat berat. Tapi, sejam lebih pula, tak setetes air mata pun kudapati di wajahnya.
Aku coba cari tau. Berharap aku tak hanya jadi penonton atas derita orang yang butuh bantuan. Mungkin sejam yang lalu juga, seorang dokter berseragam operasi berbicara dengan suara meninggi kepadanya.
“Mana darahnya Bu?” Kata dokter itu setengah membentak.
“Harusnya semua sudah siap! Ibu ini gimana sih! Pokoknya darah itu harus segera ada.” Tambahnya tanpa memberi kesempatan padanya tuk menjawab.
Tubuh itu gemetar. Dengan terbata, ia berkata, “mungkin masih di perjalanan dari pusat PMI, Dok.”
Dalam rentang sejam lebih itu, aku berhasil memperoleh informasi tentangnya. Ia hanya bersama anak perempuannya di RS ini. Kakaknya sedang dioperasi dan membutuhkan banyak darah. Ia dan anaknya itu mungkin tidak terlalu paham dengan proses administrasi RS yang teramat rumit. Proses operasi pun berjalan dengan penuh hambatan karena masalah tidak adanya stok darah. Sebenarnya, sudah ada keluarga pasien yang mencari darah yang sesuai di pusat PMI. Tapi, sudah sejam lebih belum ada kabar darinya, sementara proses operasi terus berjalan dan semakin banyak darah yang dibutuhkan pasien.
Aku ingin membantu. Tapi apa? Masalah darah bukan hanya masalah bersedia atau tidaknya kita sebagai pendonor, tapi harus melalui proses kecocokan dengan darah pasien. Dan itu, sudah sangat terlambat sekarang!
Dalam situasi membingungkan dan tidak tau harus berbuat apa kayak gini, aku jadi ingat surat cintanya Allah. “dan jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa hamba-hambaKu yang berdoa.”
Gara-Gara Demonstrasi!
Alhamdulillah, Allah masih berkenan mengukir senyum di wajahnya, meski kali ini air matanya tak bisa tertahan lagi. Tumpah ruah!
Beberapa kantung darah akhirnya dibawa oleh seorang remaja laki-laki, lengkap dengan ember yang akan digunakan untuk meletakkan tumor yang berhasil di angkat dari tubuh pasien.
Semua yang sedari tadi menunggu di koridor itu bertanya-tanya, kenapa remaja ini sangat lama di perjalanan. Sampai-sampai dokter marah-marah, keluarga pasien panik, orang lain ikut-ikutan resah.
“Gara-gara macet tadi di jalan. Ada demonstrasi mahasiswa di pintu satu Unhas.” Jawabnya lirih.
Aku tertegun. Ya Allah, hampir saja satu jiwa tak dapat terselamatkan karena demonstrasi. Karena demo? Nda salah tuh?! Yup, meski tidak berkaitan secara langsung, tapi pernahkah si demonstran berpikir sampai hal sedetail ini sebelum melakukan aksi tutup jalan?
Aku tak menyalahkan perilaku demonstrasi ini. Karena aku tahu, ini salah satu cara mengawal kebijakan. Aku hanya berpikir, apakah dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, belum ada cara yang lebih ‘elegan’ untuk mencapai tujuan demonstrasi itu? Jawabannya tentu ada. Tinggal menunggu otak-otak cemerlang si aktivis dan si intelek berkolaborasi. Siapa si aktivis dan intelek itu? Kalian kawan-kawanku! Kita, mahasiswa……….
Koridor Ruang Operasi RSWS
Sudah sejam lebih aku mengamatinya dari bangku di pojok koridor ruang operasi ini. Sesekali menghampirinya, bertanya, kemudian memberikan sedikit solusi yang entah bermanfaat atau tidak.
Sejam lebih, ia berat mengucapkan barang sepatah kata. Sejam lebih, aku melihat mimiknya seolah menanggung beban yang sangat berat. Tapi, sejam lebih pula, tak setetes air mata pun kudapati di wajahnya.
Aku coba cari tau. Berharap aku tak hanya jadi penonton atas derita orang yang butuh bantuan. Mungkin sejam yang lalu juga, seorang dokter berseragam operasi berbicara dengan suara meninggi kepadanya.
“Mana darahnya Bu?” Kata dokter itu setengah membentak.
“Harusnya semua sudah siap! Ibu ini gimana sih! Pokoknya darah itu harus segera ada.” Tambahnya tanpa memberi kesempatan padanya tuk menjawab.
Tubuh itu gemetar. Dengan terbata, ia berkata, “mungkin masih di perjalanan dari pusat PMI, Dok.”
Dalam rentang sejam lebih itu, aku berhasil memperoleh informasi tentangnya. Ia hanya bersama anak perempuannya di RS ini. Kakaknya sedang dioperasi dan membutuhkan banyak darah. Ia dan anaknya itu mungkin tidak terlalu paham dengan proses administrasi RS yang teramat rumit. Proses operasi pun berjalan dengan penuh hambatan karena masalah tidak adanya stok darah. Sebenarnya, sudah ada keluarga pasien yang mencari darah yang sesuai di pusat PMI. Tapi, sudah sejam lebih belum ada kabar darinya, sementara proses operasi terus berjalan dan semakin banyak darah yang dibutuhkan pasien.
Aku ingin membantu. Tapi apa? Masalah darah bukan hanya masalah bersedia atau tidaknya kita sebagai pendonor, tapi harus melalui proses kecocokan dengan darah pasien. Dan itu, sudah sangat terlambat sekarang!
Dalam situasi membingungkan dan tidak tau harus berbuat apa kayak gini, aku jadi ingat surat cintanya Allah. “dan jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa hamba-hambaKu yang berdoa.”
Gara-Gara Demonstrasi!
Alhamdulillah, Allah masih berkenan mengukir senyum di wajahnya, meski kali ini air matanya tak bisa tertahan lagi. Tumpah ruah!
Beberapa kantung darah akhirnya dibawa oleh seorang remaja laki-laki, lengkap dengan ember yang akan digunakan untuk meletakkan tumor yang berhasil di angkat dari tubuh pasien.
Semua yang sedari tadi menunggu di koridor itu bertanya-tanya, kenapa remaja ini sangat lama di perjalanan. Sampai-sampai dokter marah-marah, keluarga pasien panik, orang lain ikut-ikutan resah.
“Gara-gara macet tadi di jalan. Ada demonstrasi mahasiswa di pintu satu Unhas.” Jawabnya lirih.
Aku tertegun. Ya Allah, hampir saja satu jiwa tak dapat terselamatkan karena demonstrasi. Karena demo? Nda salah tuh?! Yup, meski tidak berkaitan secara langsung, tapi pernahkah si demonstran berpikir sampai hal sedetail ini sebelum melakukan aksi tutup jalan?
Aku tak menyalahkan perilaku demonstrasi ini. Karena aku tahu, ini salah satu cara mengawal kebijakan. Aku hanya berpikir, apakah dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, belum ada cara yang lebih ‘elegan’ untuk mencapai tujuan demonstrasi itu? Jawabannya tentu ada. Tinggal menunggu otak-otak cemerlang si aktivis dan si intelek berkolaborasi. Siapa si aktivis dan intelek itu? Kalian kawan-kawanku! Kita, mahasiswa……….
Koridor Ruang Operasi RSWS
Uhibbukum Fillah (Aku Mencintai Kalian karena Allah)
Waktu itu hari Jumat. Setelah lelah berurusan dengan bagian akademik fakultas, aku menuju musholla. Hari mulai beranjak siang. Kurebahkan badan, berniat tuk istirahat sejenak. Meski waktu itu musholla sangat ramai dan menjadi sesak oleh banyaknya mahasiswi yang sedang tarbiyah ataupun tartil.
Entah berapa menit aku terlelap, tak terasa telah meninggalkan alam nyata. Hingga sayup kudengar suara seorang akhwat membangunkanku.
“Dik, ikut kamat yuk…” Katanya mengajakku.
Aku terkesiap. Dengan kepala yang rasanya masih puyeng, aku menatap sekeliling. Kulihat sudah terbentuk lingkaran besar di musholla itu. Oh ya, aku baru ingat, tiap Jumat, saat para mahasiswa laki-laki menunaikan kewajiban mereka, sholat jumat, biasanya para mahasiswi di kampusku mengadakan Kajian Jumat (Kamat). Di majelis ini, biasanya dibahas tentang satu tema keislaman. Seingatku, waktu itu tema umumnya tentang ‘Cinta’. yah, tentunya cinta yang masih dalam koridor keislaman.
Aku selalu merasa senang mengikuti kajian-kajian seperti ini. Rasanya senang saja berkumpul dengan para akhwat itu. Merapatkan majelis, mendengar nasihat-nasihat yang menyejukkan hati. Ah, mempelajari dien ini rasanya selalu istimewa…^^
Salah satu point yang kudapat dari kajian itu adalah pentingnya ngungkapin cinta. Tapi, tunggu dulu… Nih cinta yang seperti apa maksudnya? hemm….
Kurang lebih seperti ini kisahnya,
“Suatu hari di zaman Rasulullah, salah seorang muslim Anshar lewat di hadapan Rasulullah yang waktu itu sedang bersama sahabat. Si sahabat berkata kepada Rasul, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang yang baru saja berlalu itu,” ungkapnya pada Rasul.
Rasul kemudian berkata, “Sampaikanlah rasa cintamu itu kepadanya.”
Akhwat yang jadi pemateri saat itu kemudian melanjutkan…….
Ukhtifillah, sampaikanlah rasa cinta kita kepada saudari-saudari kita. Cinta tak cukup ditunjukkan hanya dengan tindakan, tapi butuh ungkapan untuk membuatnya lebih indah. Katakanlah, “Innii uhibbukifillah (Sesungguhnya aku mencintaimu saudariku karena Allah)”
Kemudian bagi yang mendapatkan ungkapan cinta itu dari saudarinya, katakanlah, “Ahabbakilladzii ahbabtaniilahuu (Semoga Allah mencintaimu karena Engkau telah mencintaiku)”
Untuk saudara/i ku, di dunia nyata maupun maya, juga untuk para kompasianer, izinkan aku mengungkapkan cintaku seperti yang dicontohkan oleh sahabat Rasul…
Uhibbukum Fillah (Aku mencintai kalian karena Allah)………^^
Seseorang itu akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama orang-orang yang dicintainya. karena itu, mencintailah yang tepat. Cintailah orang yang melabuhkan cintanya kepada Allah.
Entah berapa menit aku terlelap, tak terasa telah meninggalkan alam nyata. Hingga sayup kudengar suara seorang akhwat membangunkanku.
“Dik, ikut kamat yuk…” Katanya mengajakku.
Aku terkesiap. Dengan kepala yang rasanya masih puyeng, aku menatap sekeliling. Kulihat sudah terbentuk lingkaran besar di musholla itu. Oh ya, aku baru ingat, tiap Jumat, saat para mahasiswa laki-laki menunaikan kewajiban mereka, sholat jumat, biasanya para mahasiswi di kampusku mengadakan Kajian Jumat (Kamat). Di majelis ini, biasanya dibahas tentang satu tema keislaman. Seingatku, waktu itu tema umumnya tentang ‘Cinta’. yah, tentunya cinta yang masih dalam koridor keislaman.
Aku selalu merasa senang mengikuti kajian-kajian seperti ini. Rasanya senang saja berkumpul dengan para akhwat itu. Merapatkan majelis, mendengar nasihat-nasihat yang menyejukkan hati. Ah, mempelajari dien ini rasanya selalu istimewa…^^
Salah satu point yang kudapat dari kajian itu adalah pentingnya ngungkapin cinta. Tapi, tunggu dulu… Nih cinta yang seperti apa maksudnya? hemm….
Kurang lebih seperti ini kisahnya,
“Suatu hari di zaman Rasulullah, salah seorang muslim Anshar lewat di hadapan Rasulullah yang waktu itu sedang bersama sahabat. Si sahabat berkata kepada Rasul, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang yang baru saja berlalu itu,” ungkapnya pada Rasul.
Rasul kemudian berkata, “Sampaikanlah rasa cintamu itu kepadanya.”
Akhwat yang jadi pemateri saat itu kemudian melanjutkan…….
Ukhtifillah, sampaikanlah rasa cinta kita kepada saudari-saudari kita. Cinta tak cukup ditunjukkan hanya dengan tindakan, tapi butuh ungkapan untuk membuatnya lebih indah. Katakanlah, “Innii uhibbukifillah (Sesungguhnya aku mencintaimu saudariku karena Allah)”
Kemudian bagi yang mendapatkan ungkapan cinta itu dari saudarinya, katakanlah, “Ahabbakilladzii ahbabtaniilahuu (Semoga Allah mencintaimu karena Engkau telah mencintaiku)”
Untuk saudara/i ku, di dunia nyata maupun maya, juga untuk para kompasianer, izinkan aku mengungkapkan cintaku seperti yang dicontohkan oleh sahabat Rasul…
Uhibbukum Fillah (Aku mencintai kalian karena Allah)………^^
Seseorang itu akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama orang-orang yang dicintainya. karena itu, mencintailah yang tepat. Cintailah orang yang melabuhkan cintanya kepada Allah.
Aku Tak Ingin Menangis!
Ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan, apa yang sangat ingin kita lakukan? Menangis?!
Seperti itulah yang kualami hari ini. Harapan yang kugenggam erat-erat sejak sebulan yang lalu, berebutan jatuh ke tanah. Seperti menggenggam pasir kuat-kuat. Semakin kuat aku menggenggamnya, semakin banyak butiran yang jatuh.
Celakanya, sesuatu yang membuat hatiku tercabik-cabik itu, yang memupuskan harapanku sedikit demi sedikit, yang membuatku tidak bisa menikmati makan siangku hari ini, yang berhasil menundukkan kepalaku saat berjalan tanpa ada keinginan sedikit pun tuk menoleh ke depan, hanya secarik kertas dalam amplop. Ukurannya sangat kecil pula! hanya seukuran kertas A4 dibagi lima. huwaaaaaa……>_<
Waduuuuh, kenapa terasa ada sesuatu yang hangat di pipiku ya? kesalku pagi tadi.
Duh Gusti, kenapa aku menangis… Aku tak ingin menangis!
Sesuatu itu mungkin hanya secarik atau potongan carik kertas. Tapi, ya ampun… tulisan di kertas itu yang jadi kunci harapanku. Aku mencoba menegarkan diri, tersenyum simpul kepada setiap kawan yang menyapa. meski rasanya kepalaku saat itu berat sekali, seperti ada godam yang menghantamnya. Mencoba tuk menjalani hari seperti tak terjadi apa-apa. Mungkin masih efek dari tulisan di atas kertas itu.
Semuanya, bersikap seperti biasa itu masih bisa kutahan. Hingga aku berjalan pulang menuju kos sore tadi…
Tidak dapat kutahan lagi. Akhirnya semua tumpah saat aku belum sampai ke kamar. Aku menangis! Tapi aku tak ingin menangis Tuhan….!
Kucoba tuk tegarkan diri kembali. Melihat-lihat sms motivasi yang selalu dikirim teman. Mambuka-buka kembali buku-buku motivasi yang tersusun rapi di kamarku. Memelototi kembali planning yang dulu kutulis dengan penuh semangat.
Mujarab!
Air mata itu berhasil kubentak tuk berhenti nongol di pelupuk mata.
“Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri kita dengan Rabb, mengajarkan kepada diri kita bagaimana berdo’a, dan akan menghilangkan kesombongan, ‘ujub dan rasa bangga diri. Optimislah, jangan pernah berputus asa dan jangan pula menyerah tanpa usaha. Berbaiksangkalah kepadaNya dan tunggulah segala kebaikan yang akan datang sebagai buah dari kesabaran.“
Kubuka salah satu sms yg masuk ke handphone-ku pagi tadi, dari nomor yang tak kukenali.
kubaca dan kuresapi maknanya…
Yah, aku harus optimis! harus berbaik sangka! tidak boleh menyerah! tak boleh menangis!
Bahwa semua yang dikehendaki Allah itu adalah yang terbaik. Meski yang terbaik tak selalu jadi yang terindah…
Anchy, (Kucoba berbicara dengan diri sendiri)
Kau boleh saja menangis. Tapi nanti setelah masalahnya selesai. pastikan saat kau menangis, kau menangis dalam keadaan menang.
Menang, saat akhirnya kau berhasil menyelesaikan satu per satu episode kesulitan ini dengan baik………..
Then, nampaknya hatiku sudah mulai bisa diajak kompromi oleh si akal. Kumulai menata diri lagi. Menyelesaikan apa yang bisa kuselesaikan malam ini. Kertas itu bukan penentu tercapai atau tidaknya harapanku. Tugasku hanya berusaha, karena dalam berusaha itulah aku menemukan kesempatan untuk berhasil!
Allah hanya ingin melihat usahamu. Setelah berusaha, jangan risaukan hal-hal yang memang tidak bisa di-handle, karena Dia yang akan meng-handle-nya di saat-saat yang paling tepat……….^_^
Seperti itulah yang kualami hari ini. Harapan yang kugenggam erat-erat sejak sebulan yang lalu, berebutan jatuh ke tanah. Seperti menggenggam pasir kuat-kuat. Semakin kuat aku menggenggamnya, semakin banyak butiran yang jatuh.
Celakanya, sesuatu yang membuat hatiku tercabik-cabik itu, yang memupuskan harapanku sedikit demi sedikit, yang membuatku tidak bisa menikmati makan siangku hari ini, yang berhasil menundukkan kepalaku saat berjalan tanpa ada keinginan sedikit pun tuk menoleh ke depan, hanya secarik kertas dalam amplop. Ukurannya sangat kecil pula! hanya seukuran kertas A4 dibagi lima. huwaaaaaa……>_<
Waduuuuh, kenapa terasa ada sesuatu yang hangat di pipiku ya? kesalku pagi tadi.
Duh Gusti, kenapa aku menangis… Aku tak ingin menangis!
Sesuatu itu mungkin hanya secarik atau potongan carik kertas. Tapi, ya ampun… tulisan di kertas itu yang jadi kunci harapanku. Aku mencoba menegarkan diri, tersenyum simpul kepada setiap kawan yang menyapa. meski rasanya kepalaku saat itu berat sekali, seperti ada godam yang menghantamnya. Mencoba tuk menjalani hari seperti tak terjadi apa-apa. Mungkin masih efek dari tulisan di atas kertas itu.
Semuanya, bersikap seperti biasa itu masih bisa kutahan. Hingga aku berjalan pulang menuju kos sore tadi…
Tidak dapat kutahan lagi. Akhirnya semua tumpah saat aku belum sampai ke kamar. Aku menangis! Tapi aku tak ingin menangis Tuhan….!
Kucoba tuk tegarkan diri kembali. Melihat-lihat sms motivasi yang selalu dikirim teman. Mambuka-buka kembali buku-buku motivasi yang tersusun rapi di kamarku. Memelototi kembali planning yang dulu kutulis dengan penuh semangat.
Mujarab!
Air mata itu berhasil kubentak tuk berhenti nongol di pelupuk mata.
“Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri kita dengan Rabb, mengajarkan kepada diri kita bagaimana berdo’a, dan akan menghilangkan kesombongan, ‘ujub dan rasa bangga diri. Optimislah, jangan pernah berputus asa dan jangan pula menyerah tanpa usaha. Berbaiksangkalah kepadaNya dan tunggulah segala kebaikan yang akan datang sebagai buah dari kesabaran.“
Kubuka salah satu sms yg masuk ke handphone-ku pagi tadi, dari nomor yang tak kukenali.
kubaca dan kuresapi maknanya…
Yah, aku harus optimis! harus berbaik sangka! tidak boleh menyerah! tak boleh menangis!
Bahwa semua yang dikehendaki Allah itu adalah yang terbaik. Meski yang terbaik tak selalu jadi yang terindah…
Anchy, (Kucoba berbicara dengan diri sendiri)
Kau boleh saja menangis. Tapi nanti setelah masalahnya selesai. pastikan saat kau menangis, kau menangis dalam keadaan menang.
Menang, saat akhirnya kau berhasil menyelesaikan satu per satu episode kesulitan ini dengan baik………..
Then, nampaknya hatiku sudah mulai bisa diajak kompromi oleh si akal. Kumulai menata diri lagi. Menyelesaikan apa yang bisa kuselesaikan malam ini. Kertas itu bukan penentu tercapai atau tidaknya harapanku. Tugasku hanya berusaha, karena dalam berusaha itulah aku menemukan kesempatan untuk berhasil!
Allah hanya ingin melihat usahamu. Setelah berusaha, jangan risaukan hal-hal yang memang tidak bisa di-handle, karena Dia yang akan meng-handle-nya di saat-saat yang paling tepat……….^_^
Si 01 Belum Bisa Hargai Waktu
Adakah kegiatan yang lebih menyebalkan daripada menunggu? Seseorang atau sesuatu? Sejenak atau berjenak-jenak?
Menunggu : sebuah kondisi di mana siapa pun Anda, punya tujuan atau kepentingan lain apa pun di luar sana, suka nggak suka mesti menyediakan diri untuk stay dan bahkan nggak tahu mesti berbuat apa selama masa penungguan itu.
Kalimat-kalimat yang kubaca dalam buku “Ah, Tuhan Sayang Padaku Kok…” ini sangat sesuai dengan yang kualami sekarang. Menunggu. Bukan lagi sejenak tapi sudah berjenak-jenak.
Hari ini, 25 Oktober 2011, digelar suatu kegiatan akbar bagi para penyandang gelar apoteker. Menurut rencana, kegiatan bernama Pelantikan dan Rapat Kerja Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan ini akan dimulai pukul 10.00 WITA.
Kulirik jam tanganku. Pukul 12.00 WITA. Huft,,, “masih mau lama!” gumamku dalam hati.
Molor…..
Sempurnalah pembunuhan waktuku dan waktu beratus orang di ruangan ini.
Kegiatan yang harusnya dimulai sejak dua jam lalu ini konon terpaksa harus diundur sampai ‘batas yang belum diketahui’ karena yang akan melantik dan membuka kegiatan ini belum nampak batang hidungnya. Yah, siapa lagi kalau bukan si 01 di provinsi tercinta ini…
Padahal, untuk hadir di tempat ini, semua (mungkin) matakuliah yang jadwalnya hari ini diliburkan. Fakultasku hening, seperti ruangan-ruangan tak berpenghuni. Semua kegiatan administrasi ditiadakan. pokoknya liburrrrr!
Celakanya, hal-hal seperti ini tak terjadi hanya di satu waktu, tapi hampir di semua kegiatan yang membutuhkan kehadiran siapapun yang bergelar 01.
Sedikit berbagi dari apa yang saya baca di buku itu, umumnya, kita (orang Indonesia) membiasakan diri untuk bersikap seperti ini saat ditunggu oleh orang yang ‘nilainya’ di bawah kita. Semakin ‘bernilai’ menguntungkan seseorang atau sesuatu tersebut, maka biasanya kita akan begitu menjaganya, perasaannya, waktunya, janjinya. Sebaliknya, semakin ‘tak bernilai’ menguntungkan ia pada kita, lazimnya kita akan begitu menyepelekannya, mengentengkannya, kendati kita tahu ia tengah menunggu kita, meluangkan waktu untuk kita, membunuh semua potensi yang bisa dilakukannya andai ia tidak sedang menunggu kita.
Ah, begitulah aku, engkau, dan kalian dalam membiasakan diri mengkalkulasi orang lain, dalam aspek apa pun…
Menunggu : sebuah kondisi di mana siapa pun Anda, punya tujuan atau kepentingan lain apa pun di luar sana, suka nggak suka mesti menyediakan diri untuk stay dan bahkan nggak tahu mesti berbuat apa selama masa penungguan itu.
Kalimat-kalimat yang kubaca dalam buku “Ah, Tuhan Sayang Padaku Kok…” ini sangat sesuai dengan yang kualami sekarang. Menunggu. Bukan lagi sejenak tapi sudah berjenak-jenak.
Hari ini, 25 Oktober 2011, digelar suatu kegiatan akbar bagi para penyandang gelar apoteker. Menurut rencana, kegiatan bernama Pelantikan dan Rapat Kerja Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan ini akan dimulai pukul 10.00 WITA.
Kulirik jam tanganku. Pukul 12.00 WITA. Huft,,, “masih mau lama!” gumamku dalam hati.
Molor…..
Sempurnalah pembunuhan waktuku dan waktu beratus orang di ruangan ini.
Kegiatan yang harusnya dimulai sejak dua jam lalu ini konon terpaksa harus diundur sampai ‘batas yang belum diketahui’ karena yang akan melantik dan membuka kegiatan ini belum nampak batang hidungnya. Yah, siapa lagi kalau bukan si 01 di provinsi tercinta ini…
Padahal, untuk hadir di tempat ini, semua (mungkin) matakuliah yang jadwalnya hari ini diliburkan. Fakultasku hening, seperti ruangan-ruangan tak berpenghuni. Semua kegiatan administrasi ditiadakan. pokoknya liburrrrr!
Celakanya, hal-hal seperti ini tak terjadi hanya di satu waktu, tapi hampir di semua kegiatan yang membutuhkan kehadiran siapapun yang bergelar 01.
Sedikit berbagi dari apa yang saya baca di buku itu, umumnya, kita (orang Indonesia) membiasakan diri untuk bersikap seperti ini saat ditunggu oleh orang yang ‘nilainya’ di bawah kita. Semakin ‘bernilai’ menguntungkan seseorang atau sesuatu tersebut, maka biasanya kita akan begitu menjaganya, perasaannya, waktunya, janjinya. Sebaliknya, semakin ‘tak bernilai’ menguntungkan ia pada kita, lazimnya kita akan begitu menyepelekannya, mengentengkannya, kendati kita tahu ia tengah menunggu kita, meluangkan waktu untuk kita, membunuh semua potensi yang bisa dilakukannya andai ia tidak sedang menunggu kita.
Ah, begitulah aku, engkau, dan kalian dalam membiasakan diri mengkalkulasi orang lain, dalam aspek apa pun…
Berkeinginanlah, Insya Allah Terwujud!
Siapa yang tak pernah memiliki hal yang satu ini? Jika ada, hemm… seperti apa ya hidupnya?
Terkadang, ada orang yang sangat mengandalkan kalimat ini, “Biarlah hidupku seperti air yang mengalir”. Apakah kamu salah satunya?
Coba kita telaah kalimat ini. Seperti air yang mengalir, means tidak mempunyai kekuatan, ikut saja ke mana alur membawanya. Dan tahukah kawan, air yang mengalir itu selalu menuju tempat yang lebih rendah. So, apa prinsip hidup seperti ini masih patut kita pertahankan?
Pernah juga saya membaca, ada orang yang prinsip hidupnya seperti layang-layang. Semakin kuat ia melawan arus angin, maka semakin tinggi ia di udara. Prinsip ini sangat kontras dengan analogi air yang sebelumnya. Kita butuh kekuatan dari diri kita sendiri jika kita ingin menjadi lebih baik. Kita butuh untuk melawan arus. Jika ikut arus, kita akan terus berada di tempat yang rendah. Setuju? ^^
Back to topic, tentang keinginan. Saya menulis catatan kecil ini berangkat dari apa yang saya alami hari ini dan beberapa hari belakangan ini. Tentang nikmatnya punya keinginan. Keinginan yang sangat kecil, jika terwujud rasanya tak berhenti mau ngucapin Alhamdulillah.
Saya ingin berbagi satu hal kecil tentang keinginan. Beberapa hari lalu, mungkin belum genap sebulan, saya nonton film Bollywood. Di film itu, diceritakan tentang seorang anak yang mengalami disleksia (kesulitan dalam membaca dan menulis). Tak ada yang memahami kondisi anak ini, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Beberapa kali ia tinggal kelas. Bagaimana tidak, jika disuruh membaca, ia melihat huruf-huruf dalam tulisan itu seperti menari-nari.
Semua orang menganggapnya sangat bodoh. Tiap hari ia dihukum oleh gurunya dan dicela teman sekolahnya. Membuat kerusuhan tiap hari, baik di rumah maupun di sekolah, akhirnya jadi tindakan yang ia pilih untuk menutupi ketidakmampuannya ini.
Apakah ia memang benar-benar bodoh? Jawabannya TIDAK SAMA SEKALI!
Di akhir cerita, di puncak konflik perasaan yang dialami anak ini, ia bertemu dan diajar oleh seorang guru seni honorer di sekolah asramanya. Sang guru ini (yang pernah mengalami disleksia di masa kecil) lah yang akhirnya mampu mengembalikan kepercayaan diri anak tersebut dan melejitkan potensinya di bidang seni, utamanya melukis. Ia akhirnya jadi yang terbaik di sekolahnya. (Happy Ending donk… hehe)
EVERY CHILD IS SPECIAL…
Kalimat di bagian pembuka film yang berhasil buat saya pake tissue sampai berlembar-lembar ini sangat membekas di hati. Habis nonton film ini, saya buka buku kecil khusus yang selalu jadi sasaran tiap kali keinginan muncul di benakku. Kuambil pena, lalu kutulis besar-besar di sana,
“SUATU SAAT, SAYA INGIN JADI PENDIDIK BAGI ANAK-ANAK YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS, SEPERTI ANAK DALAM FILM ITU. YA, SUATU SAAT… AAMIIN!”
Selesai! Kututup buku itu, dan kubuka lagi tiap aku ingin menuliskan keinginan-keinginan yang lain.
Hari ini, belum genap sebulan saya menulisnya. Saya membuka lembaran di mana dulu kutulis kalimat itu besar-besar. Saya mencoretnya! Yah, karena hari ini, keinginan itu terwujud!! Belum genap sebulan… Alhamdulillah.
Pagi tadi, sekira pukul 09.00 WITA, saya meluncur menggunakan jasa ojek menuju perumahan dosen Tamalanrea Unhas. Dua hari yang lalu, seorang dosen memintaku berkunjung ke rumahnya untuk mengajar privat pelajaran kimia untuk anak lelaki bungsunya.
Sampai di sana, ternyata si anak sudah siap dengan buku kimia berbahasa Inggrisnya. Saya pun langsung diajak masuk kemudian ditinggalkan berdua saja dengan si anak di ruang tamu. Belajar dimulai! Anak ini cukup hiperaktif. Imajinasinya ke mana-mana. Karena masih SMP, materinya masih sangat dasar, sekadar pengenalan alat-alat laboratorium, tentang sifat-sifat senyawa asam, basa, dan garam, tentang unsur-unsur dalam system periodic, dan semisalnya. Bagi saya, ngajar materi-materi dasar seperti ini mungkin sangat mudah.
Tapi bagi anak ini tidak…
Beberapa kali saya coba membahas materi di buku itu dan menganalogikannya dengan benda-benda yang ada di sekitar saya pada waktu itu. Tapi si anak sepertinya tidak terlalu paham. Apalagi waktu membahas masalah asam, basa, garam, dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi. Saya melihat ia mulai bosan.
Selama proses belajar-mengajar yang lebih banyak dibumbui dengan candaan itu, si anak lebih banyak bertanya tentang hal-hal yang justru menurutku sangat imajinatif, berangkat dari kenyataan yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang diamatinya lewat media seperti televisi.
“Kak, orang yang lagi berada di dalam laut dan yang ada di ruang angkasa itu sama ya… sama-sama pakai tabung besar di punggungnya. Tabung itu untuk apa? Isinya apa?” Ini salah satu pertanyaannya.
“Isinya Oksigen (O2), digunakan untuk bernapas” jawabku. Kebetulan waktu itu kami lagi bahas mengenai ikatan kimia dan salah satunya adalah Oksigen.
“Kenapa harus oksigen? Apa tidak bisa bernapas pakai carbon monoksida (waktu itu dia lihat di buku ada tulisan “Carbon Monoksida”) atau Karbondioksida saja?” tanyanya lagi.
Demikian seterusnya, ia bertanya berbagai macam pertanyaan setelah mengimajinasinya. Terkadang, saya melihat ia diam sebentar, terlihat berpikir, kemudian melontarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.
Saya sih senang-senang saja menjawabnya. Tapi saya merasa tidak enak dengan orang tua anak ini, yang mengharapkan saya mengajar Kimia untuk anaknya. Sementara, saya melihat anak ini tidak terlalu senang belajar teori kimia. Matanya baru akan melek jika melihat angka atau berbicara masalah rumus-rumus. Hemm…….
Tingkah anak ini tak seperti anak biasanya. Sering berbicara ngawur, bertingkah aneh, dan hal tak lazim lainnya. Apa yang saya pikirkan saat itu? Saya bersyukur. Karena ternyata keinginanku dulu, yang belum genap sebulan kutulis di buku kecilku hari ini terwujud.
Seusai balajar-mengajar, saya sedikit berbincang dengan orang tua si anak. Menurut orang tuanya, anak ini memang memiliki kelainan, tidak seperti anak kebanyakan. Dia tidak mampu menganalisis. Dia sulit mencerna apa yang disampaikan kepadanya.
Dalam hati saya tersenyum simpul. Bukan karena bahagia dengan keterbatasan anak ini, tapi karena mengingat keinginan itu. Allah mendengarnya. Dan hari ini Allah menghadiahkannya untukku. Sedikit banyak, saya mulai merasakan repot, nikmat, dan enaknya ngajar anak ini. Melatih kesabaran, menuntut untuk selalu tersenyum, melihat tingkah-tingkah menyebalkannya sebagai sesuatu yang justru menantang kekreativan.
Saat menulis catatan kecil ini, saya merefleksi kembali list-list keinginan kecil hingga besar yang pernah kuikrarkan. Semakin kujajaki satu persatu keinginan itu, semakin kulihat Maha Penyayangnya Allah. Sangat banyak hal-hal yang dulu hanya berupa keinginan, namun kini terwujud, meski dalam bentuk yang tidak terlalu mirip.
Berkeinginanlah, Insya Allah terwujud!
Terkadang, ada orang yang sangat mengandalkan kalimat ini, “Biarlah hidupku seperti air yang mengalir”. Apakah kamu salah satunya?
Coba kita telaah kalimat ini. Seperti air yang mengalir, means tidak mempunyai kekuatan, ikut saja ke mana alur membawanya. Dan tahukah kawan, air yang mengalir itu selalu menuju tempat yang lebih rendah. So, apa prinsip hidup seperti ini masih patut kita pertahankan?
Pernah juga saya membaca, ada orang yang prinsip hidupnya seperti layang-layang. Semakin kuat ia melawan arus angin, maka semakin tinggi ia di udara. Prinsip ini sangat kontras dengan analogi air yang sebelumnya. Kita butuh kekuatan dari diri kita sendiri jika kita ingin menjadi lebih baik. Kita butuh untuk melawan arus. Jika ikut arus, kita akan terus berada di tempat yang rendah. Setuju? ^^
Back to topic, tentang keinginan. Saya menulis catatan kecil ini berangkat dari apa yang saya alami hari ini dan beberapa hari belakangan ini. Tentang nikmatnya punya keinginan. Keinginan yang sangat kecil, jika terwujud rasanya tak berhenti mau ngucapin Alhamdulillah.
Saya ingin berbagi satu hal kecil tentang keinginan. Beberapa hari lalu, mungkin belum genap sebulan, saya nonton film Bollywood. Di film itu, diceritakan tentang seorang anak yang mengalami disleksia (kesulitan dalam membaca dan menulis). Tak ada yang memahami kondisi anak ini, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Beberapa kali ia tinggal kelas. Bagaimana tidak, jika disuruh membaca, ia melihat huruf-huruf dalam tulisan itu seperti menari-nari.
Semua orang menganggapnya sangat bodoh. Tiap hari ia dihukum oleh gurunya dan dicela teman sekolahnya. Membuat kerusuhan tiap hari, baik di rumah maupun di sekolah, akhirnya jadi tindakan yang ia pilih untuk menutupi ketidakmampuannya ini.
Apakah ia memang benar-benar bodoh? Jawabannya TIDAK SAMA SEKALI!
Di akhir cerita, di puncak konflik perasaan yang dialami anak ini, ia bertemu dan diajar oleh seorang guru seni honorer di sekolah asramanya. Sang guru ini (yang pernah mengalami disleksia di masa kecil) lah yang akhirnya mampu mengembalikan kepercayaan diri anak tersebut dan melejitkan potensinya di bidang seni, utamanya melukis. Ia akhirnya jadi yang terbaik di sekolahnya. (Happy Ending donk… hehe)
EVERY CHILD IS SPECIAL…
Kalimat di bagian pembuka film yang berhasil buat saya pake tissue sampai berlembar-lembar ini sangat membekas di hati. Habis nonton film ini, saya buka buku kecil khusus yang selalu jadi sasaran tiap kali keinginan muncul di benakku. Kuambil pena, lalu kutulis besar-besar di sana,
“SUATU SAAT, SAYA INGIN JADI PENDIDIK BAGI ANAK-ANAK YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS, SEPERTI ANAK DALAM FILM ITU. YA, SUATU SAAT… AAMIIN!”
Selesai! Kututup buku itu, dan kubuka lagi tiap aku ingin menuliskan keinginan-keinginan yang lain.
Hari ini, belum genap sebulan saya menulisnya. Saya membuka lembaran di mana dulu kutulis kalimat itu besar-besar. Saya mencoretnya! Yah, karena hari ini, keinginan itu terwujud!! Belum genap sebulan… Alhamdulillah.
Pagi tadi, sekira pukul 09.00 WITA, saya meluncur menggunakan jasa ojek menuju perumahan dosen Tamalanrea Unhas. Dua hari yang lalu, seorang dosen memintaku berkunjung ke rumahnya untuk mengajar privat pelajaran kimia untuk anak lelaki bungsunya.
Sampai di sana, ternyata si anak sudah siap dengan buku kimia berbahasa Inggrisnya. Saya pun langsung diajak masuk kemudian ditinggalkan berdua saja dengan si anak di ruang tamu. Belajar dimulai! Anak ini cukup hiperaktif. Imajinasinya ke mana-mana. Karena masih SMP, materinya masih sangat dasar, sekadar pengenalan alat-alat laboratorium, tentang sifat-sifat senyawa asam, basa, dan garam, tentang unsur-unsur dalam system periodic, dan semisalnya. Bagi saya, ngajar materi-materi dasar seperti ini mungkin sangat mudah.
Tapi bagi anak ini tidak…
Beberapa kali saya coba membahas materi di buku itu dan menganalogikannya dengan benda-benda yang ada di sekitar saya pada waktu itu. Tapi si anak sepertinya tidak terlalu paham. Apalagi waktu membahas masalah asam, basa, garam, dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi. Saya melihat ia mulai bosan.
Selama proses belajar-mengajar yang lebih banyak dibumbui dengan candaan itu, si anak lebih banyak bertanya tentang hal-hal yang justru menurutku sangat imajinatif, berangkat dari kenyataan yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang diamatinya lewat media seperti televisi.
“Kak, orang yang lagi berada di dalam laut dan yang ada di ruang angkasa itu sama ya… sama-sama pakai tabung besar di punggungnya. Tabung itu untuk apa? Isinya apa?” Ini salah satu pertanyaannya.
“Isinya Oksigen (O2), digunakan untuk bernapas” jawabku. Kebetulan waktu itu kami lagi bahas mengenai ikatan kimia dan salah satunya adalah Oksigen.
“Kenapa harus oksigen? Apa tidak bisa bernapas pakai carbon monoksida (waktu itu dia lihat di buku ada tulisan “Carbon Monoksida”) atau Karbondioksida saja?” tanyanya lagi.
Demikian seterusnya, ia bertanya berbagai macam pertanyaan setelah mengimajinasinya. Terkadang, saya melihat ia diam sebentar, terlihat berpikir, kemudian melontarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.
Saya sih senang-senang saja menjawabnya. Tapi saya merasa tidak enak dengan orang tua anak ini, yang mengharapkan saya mengajar Kimia untuk anaknya. Sementara, saya melihat anak ini tidak terlalu senang belajar teori kimia. Matanya baru akan melek jika melihat angka atau berbicara masalah rumus-rumus. Hemm…….
Tingkah anak ini tak seperti anak biasanya. Sering berbicara ngawur, bertingkah aneh, dan hal tak lazim lainnya. Apa yang saya pikirkan saat itu? Saya bersyukur. Karena ternyata keinginanku dulu, yang belum genap sebulan kutulis di buku kecilku hari ini terwujud.
Seusai balajar-mengajar, saya sedikit berbincang dengan orang tua si anak. Menurut orang tuanya, anak ini memang memiliki kelainan, tidak seperti anak kebanyakan. Dia tidak mampu menganalisis. Dia sulit mencerna apa yang disampaikan kepadanya.
Dalam hati saya tersenyum simpul. Bukan karena bahagia dengan keterbatasan anak ini, tapi karena mengingat keinginan itu. Allah mendengarnya. Dan hari ini Allah menghadiahkannya untukku. Sedikit banyak, saya mulai merasakan repot, nikmat, dan enaknya ngajar anak ini. Melatih kesabaran, menuntut untuk selalu tersenyum, melihat tingkah-tingkah menyebalkannya sebagai sesuatu yang justru menantang kekreativan.
Saat menulis catatan kecil ini, saya merefleksi kembali list-list keinginan kecil hingga besar yang pernah kuikrarkan. Semakin kujajaki satu persatu keinginan itu, semakin kulihat Maha Penyayangnya Allah. Sangat banyak hal-hal yang dulu hanya berupa keinginan, namun kini terwujud, meski dalam bentuk yang tidak terlalu mirip.
Berkeinginanlah, Insya Allah terwujud!
Karena Menulis Itu, Sangat Menyenangkan!
Sekira dua bulan yang lalu, saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Salah satu program yang wajib diikuti sebelum menyusun tugas akhir berupa skripsi. Kegiatan ini mengantar saya merasakan bagaimana hidup di pelosok, jauh dari berbagai kemudahan dan tersedianya fasilitas seperti di kota.
Sebelum berangkat ke lokasi KKN, saya menyiapkan satu buku kecil khusus yang akan kujadikan teman berbagi selama di sana. Setiap hari selama di sana, saya menyempatkan untuk menulis apa yang saya alami dan rasakan pada hari itu. Terkadang, beberapa teman menegur sedikit mengejek kebiasaan saya ini. Bagi saya tak ada masalah. “Mereka hanya belum tahu, bagaimana nikmatnya menulis.” pikirku.
_dua bulan kemudian_
Hari ini Sabtu. Sebagai mahasiswi Farmasi semester akhir, kegiatan akademik di kampus sudah mulai menurun. Tak seperti semester sebelumnya, yang rasa-rasanya tujuh hari dalam sepekan itu tak cukup hanya untuk praktikum di laboratorium.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kos (yah, belajar jadi ibu rumah tangga sebelum waktunya..^^), buku kecil yang kumaksud tadi tiba-tiba menarik perhatianku. Kubuka lembar pertama,
“It’s about my story in Marioriaja Village. Hopefully, will be a nice moment, that’s hard for me to forget it…”
Tulisan ini yang kutemukan di lembar pertamanya.
Aku tersenyum kecil…^_^
Kubuka lembar kedua… “The First Day” Tulisan ini semakin memicingkan mataku karena tersenyum.
Demikian hingga lembar-lembar selanjutnya…
Sangat menyenangkan! Tersenyum, serasa mendengar keluhan, riang tawa, dan tangis diri sendiri dua bulan yang lalu. Seolah menonton drama kehidupan diri sendiri dua bulan lalu. Terkadang, saya merasa bingung, karena beberapa dari moment itu, sudah tidak tersimpan di memori otakku.
Kawan, saya hanya ingin menyampaikan,
menulis itu menyenangkan! mengikat makna dari tiap peristiwa. Karena memori otak tak setangguh coretan pena…
Menulislah, karena suatu saat kau akan dapati dirimu tersenyum simpul hingga lebar karena tulisan itu. Demikian pula dengan keinginanmu. Tulislah ia secara nyata. jangan hanya disimpan di memori, karena suatu saat kau akan lupa! Tulislah keinginan itu, sebanyak apapun ia. Hingga nanti kau akan dapati tulisan-tulisan itu hanya berupa coretan karena kau telah meraihnya satu demi satu………
Sebelum berangkat ke lokasi KKN, saya menyiapkan satu buku kecil khusus yang akan kujadikan teman berbagi selama di sana. Setiap hari selama di sana, saya menyempatkan untuk menulis apa yang saya alami dan rasakan pada hari itu. Terkadang, beberapa teman menegur sedikit mengejek kebiasaan saya ini. Bagi saya tak ada masalah. “Mereka hanya belum tahu, bagaimana nikmatnya menulis.” pikirku.
_dua bulan kemudian_
Hari ini Sabtu. Sebagai mahasiswi Farmasi semester akhir, kegiatan akademik di kampus sudah mulai menurun. Tak seperti semester sebelumnya, yang rasa-rasanya tujuh hari dalam sepekan itu tak cukup hanya untuk praktikum di laboratorium.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kos (yah, belajar jadi ibu rumah tangga sebelum waktunya..^^), buku kecil yang kumaksud tadi tiba-tiba menarik perhatianku. Kubuka lembar pertama,
“It’s about my story in Marioriaja Village. Hopefully, will be a nice moment, that’s hard for me to forget it…”
Tulisan ini yang kutemukan di lembar pertamanya.
Aku tersenyum kecil…^_^
Kubuka lembar kedua… “The First Day” Tulisan ini semakin memicingkan mataku karena tersenyum.
Demikian hingga lembar-lembar selanjutnya…
Sangat menyenangkan! Tersenyum, serasa mendengar keluhan, riang tawa, dan tangis diri sendiri dua bulan yang lalu. Seolah menonton drama kehidupan diri sendiri dua bulan lalu. Terkadang, saya merasa bingung, karena beberapa dari moment itu, sudah tidak tersimpan di memori otakku.
Kawan, saya hanya ingin menyampaikan,
menulis itu menyenangkan! mengikat makna dari tiap peristiwa. Karena memori otak tak setangguh coretan pena…
Menulislah, karena suatu saat kau akan dapati dirimu tersenyum simpul hingga lebar karena tulisan itu. Demikian pula dengan keinginanmu. Tulislah ia secara nyata. jangan hanya disimpan di memori, karena suatu saat kau akan lupa! Tulislah keinginan itu, sebanyak apapun ia. Hingga nanti kau akan dapati tulisan-tulisan itu hanya berupa coretan karena kau telah meraihnya satu demi satu………
Untuk Kekasih Saya Tercinta, Allah...
Ya ALLAH, tahukah Engkau bahwa malam ini saya sangat merindukanMu… sangat ingin berbicara denganMu, sangat ingin berdua saja denganMu, sangat ingin Engkau mendengarkan apa saja yang saya alami dibumi milikMu, sangat ingin dimanjakan olehMu, sangat ingin disayangi dengan segenap kasih sayangMu, sangat ingin tidak ada hijab, tidak ada jarak diantara kita, sangat ingin Engkau memaafkan segala kesalahan saya dimasa masa yang lalu agar kita bisa bersama hingga ujung napas saya, bahkan setelah napas saya berpisah dari raga saya ini…
Ya ALLAH tahukah Engkau bahwa namaMu selalu saya sebut disetiap langkah saya… bahwa namaMu adalah nama terindah yang pernah saya kenal, bahwa dengan menyebut namaMu hati saya akan kembali tenang, bahwa namaMu mampu membuat segumpal daging merah bernama hati didalam jiwa saya bergetar, bahwa namaMu begitu indah bukan hanya ditelinga saya, tapi diseluruh darah yang mengalir sempurna didalam raga saya bahkan berdetak sempurna bak rentakan rampak gendang dijantung hati saya…
Ya ALLAH saya ingin Engkau tahu bahwa saya sangat mencintaiMu melebihi apapun yang disinari oleh matahariMu, saya ingin Engkau tahu bahwa cinta ini membuat saya ingin terus memperbaiki diri agar Engkau tahu bahwa semua yang saya lakukan adalah untuk memperoleh cintaMu, karena saya tahu bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan atas cinta ini…
Ya ALLAH kehadiranMu selalu ada dalam setiap helaan napas saya, tak sehelapun tanpa kehadiranMu, Engkaulah pelepas dahaga jiwa saya, Engkaulah penghapus rasa lapar jiwa saya, penyejuk mata, cahaya akal, pengharum batin, Engkaulah penawar racun didalam raga hamba… You are my everything, You are the step I made, You are my daily sunshine
Ya ALLAH jangan tinggalkan saya, jangan jauhi saya jika saya salah, … tak ada yang lebih baik dari yang saya miliki kecuali Engkau, tak ada cinta yang lain, tak akan saya mencintai apapun diduniaMu yang akan membuat Engkau cemburu dan marah lalu meninggalkan saya, TAK AKAN saya berselingkuh dengan Tuhan lain selain Engkau, tak akan ada cinta yang lain wahai ALLAH
Ya ALLAH inilah saya yang mencintaiMu melebihi apapun … jangan tinggalkan saya
Wahai ALLAH tercinta, yang tiada TUHAN selain Engkau … saya janji nanti saya akan kirimi lagi Engkau surat cinta saya yang lain ya ALLAH, saya tahu bahwa Engkau tidak pernah lelah menanti cinta saya … menunggu surat cinta saya yang lain, I LOVE YOU wahai ALLAH
Ketahuilah wahai ALLAH bahwa surat cintaMu yang terlukis indah dalam kitab suciMu Al Quran selalu saya baca untuk melepas kerinduan yang membuncah didalam jiwa saya … saya sangat sangat merindukanMU.
Ya ALLAH tahukah Engkau bahwa namaMu selalu saya sebut disetiap langkah saya… bahwa namaMu adalah nama terindah yang pernah saya kenal, bahwa dengan menyebut namaMu hati saya akan kembali tenang, bahwa namaMu mampu membuat segumpal daging merah bernama hati didalam jiwa saya bergetar, bahwa namaMu begitu indah bukan hanya ditelinga saya, tapi diseluruh darah yang mengalir sempurna didalam raga saya bahkan berdetak sempurna bak rentakan rampak gendang dijantung hati saya…
Ya ALLAH saya ingin Engkau tahu bahwa saya sangat mencintaiMu melebihi apapun yang disinari oleh matahariMu, saya ingin Engkau tahu bahwa cinta ini membuat saya ingin terus memperbaiki diri agar Engkau tahu bahwa semua yang saya lakukan adalah untuk memperoleh cintaMu, karena saya tahu bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan atas cinta ini…
Ya ALLAH kehadiranMu selalu ada dalam setiap helaan napas saya, tak sehelapun tanpa kehadiranMu, Engkaulah pelepas dahaga jiwa saya, Engkaulah penghapus rasa lapar jiwa saya, penyejuk mata, cahaya akal, pengharum batin, Engkaulah penawar racun didalam raga hamba… You are my everything, You are the step I made, You are my daily sunshine
Ya ALLAH jangan tinggalkan saya, jangan jauhi saya jika saya salah, … tak ada yang lebih baik dari yang saya miliki kecuali Engkau, tak ada cinta yang lain, tak akan saya mencintai apapun diduniaMu yang akan membuat Engkau cemburu dan marah lalu meninggalkan saya, TAK AKAN saya berselingkuh dengan Tuhan lain selain Engkau, tak akan ada cinta yang lain wahai ALLAH
Ya ALLAH inilah saya yang mencintaiMu melebihi apapun … jangan tinggalkan saya
Wahai ALLAH tercinta, yang tiada TUHAN selain Engkau … saya janji nanti saya akan kirimi lagi Engkau surat cinta saya yang lain ya ALLAH, saya tahu bahwa Engkau tidak pernah lelah menanti cinta saya … menunggu surat cinta saya yang lain, I LOVE YOU wahai ALLAH
Ketahuilah wahai ALLAH bahwa surat cintaMu yang terlukis indah dalam kitab suciMu Al Quran selalu saya baca untuk melepas kerinduan yang membuncah didalam jiwa saya … saya sangat sangat merindukanMU.
Izinkan Aku
Wahai ibu,
Besok, aku akan pergi bersama sepi
Menjadi terasing dalam dunia yang bising
Lusa, sang bayu kan menari dalam riang jilbabku
Memberikan penegasan pada kompas hidupku
Izinkan aku memilih menjadi jundi
Relakan aku berkawan kerikil dan duri
Ikhlaskan diri ini menjadi mentari
Bagi perindu-perindu Ilahi
Wahai ibu,
Jalan ini memang tak berujung
Perjuangan ini pun tak kenal buntung
Dia kan terus hidup
Sampai napas tak lagi berhembus
Dia kan tetap utuh bersama doa
Dalam kelam yang membius
Doakan aku ibu, untuk menjadi muslimah kaffah
Mohonkan diri ibu, tuk tetap istiqomah
Berdiri di barisan terdepan
Kafilah perindu Syurga
Hidup mulia atau syahid sebagai syuhada!!!
Besok, aku akan pergi bersama sepi
Menjadi terasing dalam dunia yang bising
Lusa, sang bayu kan menari dalam riang jilbabku
Memberikan penegasan pada kompas hidupku
Izinkan aku memilih menjadi jundi
Relakan aku berkawan kerikil dan duri
Ikhlaskan diri ini menjadi mentari
Bagi perindu-perindu Ilahi
Wahai ibu,
Jalan ini memang tak berujung
Perjuangan ini pun tak kenal buntung
Dia kan terus hidup
Sampai napas tak lagi berhembus
Dia kan tetap utuh bersama doa
Dalam kelam yang membius
Doakan aku ibu, untuk menjadi muslimah kaffah
Mohonkan diri ibu, tuk tetap istiqomah
Berdiri di barisan terdepan
Kafilah perindu Syurga
Hidup mulia atau syahid sebagai syuhada!!!
Surat Buat Ayah
Maaf jika aku baru tersadar,
Bahwa sudah terlalu banyak keringat yang keluar dari kulitmu
Hingga tak mampu aku seka walau dengan sejuta handuk
Karena sudah membanjiri dan menggenangi setiap lantai yang kupijak
Maaf jika aku kini tercenung,
Karena terperangah oleh gundukan kebijakan
Yang telah kau pikirkan, katakan, dan kau lakukan
Hingga rasanya tiap kepatuhan yang telah kulakukan
Tak mampu untuk membayar semuanya
Maaf jika aku baru melihat,
Banyaknya luka di otak dan tubuhmu
Tersayat oleh segala kekurangan dan ketidakberdayaanku
Terhujam dan tertikam oleh tindak tanduk yang tiada berkenan
Maaf jika aku tidak memperhatikan,
Berjuta keluh dan lenguh lelah yang kau teriakkan di kesunyian kala sendiri
Sembunyi agar tiada dari anakmu terbangun karenanya di tengah malam
Dan kembali ke dunia mimpi dengan ketidakberdayaan jiwa
Aku tahu engkau telah hidup di dua alam sejak dulu….
Siang kau sibuk bagai semut yang tak kenal lelah,
Dan malam kau beterbangan bagai kelelawar lapar yang tak kenal bosan mengepak sayap
Aku juga tahu bahwa kau telah tutupi sakit dan perihmu
Karena ketegaran itu harus kau tunjukkan agar kami tiada berteriak lapar dan sedih
Kini usiamu telah lanjut seperti bunga yang kembali merunduk setelah 1 minggu mekar,
Gurat gurat lemas di wajahmu mulai berlomba untuk bersolek,
Dan ritme nafasmu yang semakin lemah perdengarkan hembusannya
Hai ayah……ini aku tulis sebuah surat janji padamu
Rumah Allah yang ingin kau bangun nanti dalam tiga kali hela nafas, akan terbangun…
Kebahagiaan masa tuamu dalam satu kedip mata, akan bawakan tandu untuk membawamu…
Istana dunia yang ingin kau dapatkan, dalam satu sebut kau panggil namaku, kau akan berada didalamnya…
Ketenangan jiwa yang kau idamkan dalam dua kali teriakmu, akan terbirit birit untuk menghadapmu…
Senyum senyum puas dalam dua kali kau jejaki bumi, akan tergantung dengan manis di wajahmu….
Segarnya udara pagi tanpa beban, akan selalu menyapamu tanpa kau mimpikan terlebih dulu…
Dan peluk istri tercintamu akan selalu dapat kau rasakan, karena tak akan pernah ku biarkan ia mengkhawatirkan kebutuhanku…
Surat janjiku ini adalah sumpah atas nyawaku
Surat janji ini adalah harta yang menjadi jaminan atas kebahagiaanku
Jika boleh, maka biar kutukarkan semua nafas yang kumiliki dengan terkabulkannya isi suratku
Sebelum aku melihat ayah menangis bahagia dan memelukku atas terciptanya mimpimu,
Maka tak akan pernah kubiarkan tubuh ini beristirahat hingga jatuh dan terkulai untuk selamanya….
Hidupku untuk kebahagiaanmu wahai orangtuaku (Dalam rangka beribadah pada Tuhanku)…
Percaya dan yakinlah aku mampu esok…..
Bahwa sudah terlalu banyak keringat yang keluar dari kulitmu
Hingga tak mampu aku seka walau dengan sejuta handuk
Karena sudah membanjiri dan menggenangi setiap lantai yang kupijak
Maaf jika aku kini tercenung,
Karena terperangah oleh gundukan kebijakan
Yang telah kau pikirkan, katakan, dan kau lakukan
Hingga rasanya tiap kepatuhan yang telah kulakukan
Tak mampu untuk membayar semuanya
Maaf jika aku baru melihat,
Banyaknya luka di otak dan tubuhmu
Tersayat oleh segala kekurangan dan ketidakberdayaanku
Terhujam dan tertikam oleh tindak tanduk yang tiada berkenan
Maaf jika aku tidak memperhatikan,
Berjuta keluh dan lenguh lelah yang kau teriakkan di kesunyian kala sendiri
Sembunyi agar tiada dari anakmu terbangun karenanya di tengah malam
Dan kembali ke dunia mimpi dengan ketidakberdayaan jiwa
Aku tahu engkau telah hidup di dua alam sejak dulu….
Siang kau sibuk bagai semut yang tak kenal lelah,
Dan malam kau beterbangan bagai kelelawar lapar yang tak kenal bosan mengepak sayap
Aku juga tahu bahwa kau telah tutupi sakit dan perihmu
Karena ketegaran itu harus kau tunjukkan agar kami tiada berteriak lapar dan sedih
Kini usiamu telah lanjut seperti bunga yang kembali merunduk setelah 1 minggu mekar,
Gurat gurat lemas di wajahmu mulai berlomba untuk bersolek,
Dan ritme nafasmu yang semakin lemah perdengarkan hembusannya
Hai ayah……ini aku tulis sebuah surat janji padamu
Rumah Allah yang ingin kau bangun nanti dalam tiga kali hela nafas, akan terbangun…
Kebahagiaan masa tuamu dalam satu kedip mata, akan bawakan tandu untuk membawamu…
Istana dunia yang ingin kau dapatkan, dalam satu sebut kau panggil namaku, kau akan berada didalamnya…
Ketenangan jiwa yang kau idamkan dalam dua kali teriakmu, akan terbirit birit untuk menghadapmu…
Senyum senyum puas dalam dua kali kau jejaki bumi, akan tergantung dengan manis di wajahmu….
Segarnya udara pagi tanpa beban, akan selalu menyapamu tanpa kau mimpikan terlebih dulu…
Dan peluk istri tercintamu akan selalu dapat kau rasakan, karena tak akan pernah ku biarkan ia mengkhawatirkan kebutuhanku…
Surat janjiku ini adalah sumpah atas nyawaku
Surat janji ini adalah harta yang menjadi jaminan atas kebahagiaanku
Jika boleh, maka biar kutukarkan semua nafas yang kumiliki dengan terkabulkannya isi suratku
Sebelum aku melihat ayah menangis bahagia dan memelukku atas terciptanya mimpimu,
Maka tak akan pernah kubiarkan tubuh ini beristirahat hingga jatuh dan terkulai untuk selamanya….
Hidupku untuk kebahagiaanmu wahai orangtuaku (Dalam rangka beribadah pada Tuhanku)…
Percaya dan yakinlah aku mampu esok…..
Ketika Allah Memilihmu Untukku
Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..
Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi ‘kita’..
Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya..
Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta’ala..
Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah. .
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..
Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..
Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa Sallam bersabda : “Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..
Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi ‘kita’..
Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya..
Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta’ala..
Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah. .
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..
Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..
Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa Sallam bersabda : “Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Saat Aku Pulang
Saat aku pulang.. Saat aku memasuki rumah..
Aku masih bisa memandang wajah kedua orang tuaku.. Aku masih bisa berada dalam dekapan keduanya.. Senyum, tawa, dan tangis mereka masih sangat nyata di hadapanku..
Masih ada suara yang memanggilku “nak..” Yaa..Panggilan itu selalu indah untuk ku dengar..
Masih ada tubuh yang siap mendekapku saat aku ingin bergelayut manja.. Masih ada tangan yang bisa aku cium setiap kali aku akan keluar rumah.. Masih ada lantunan doa untukku yang keluar dari bibir keduanya..
Allah.. Terima kasih untuk nikmat yang Kau beri ini.. Nikmat yang masih Kau perkenankan untuk aku rasakan.
Sementara di luar sana.. Ada orang lain yang tak tau kemana harus pulang.. Saat ia rindu, ia tak tau kemana harus membawa rasa rindunya..
Wajah orang tuanya hanya bisa hadir dalam bayang-bayang.. Tak ada lagi lantunan doa untuknya, yang ada justu ia berdoa untuk orang tuanya.. Kedua orang tuanya tak lagi disisinya, tapi disisiMu..
Allah.. Aku tak pernah tau sampai kapan aku masih bisa bersama kedua orang tuaku.. Karena itu bantu aku untuk bisa membahagiakan keduanya.. Bantu aku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa tanpaMu..
Aku tau, akan ada saatnya aku tak lagi melihat keduanya di rumah.. Akan ada saatnya aku harus sendiri tanpa mereka.. Akan ada saatnya rindu ini tak lagi bertuan..
Allah.. Perpisahanku dengan kedua orang tuaku itu pasti adanya.. Entahlah.. Aku atau keduanya yang akan pergi lebih dulu menghadapMu.. Duhai Allah.. Sebelum perpisahan itu benar-benar tiba.. Bantu aku untuk bisa jadi anak yang sholehah.. Anak yang bisa menjadi amal jariyah bagi keduanya..
Kutulis untuk kedua orang tuaku.. Maaf jika anakmu ini belum sepenuhnya bisa menggapai cita seperti inginmu.. Cita yang aku pun tak tau kapan akan tergenapkan..
Aku masih bisa memandang wajah kedua orang tuaku.. Aku masih bisa berada dalam dekapan keduanya.. Senyum, tawa, dan tangis mereka masih sangat nyata di hadapanku..
Masih ada suara yang memanggilku “nak..” Yaa..Panggilan itu selalu indah untuk ku dengar..
Masih ada tubuh yang siap mendekapku saat aku ingin bergelayut manja.. Masih ada tangan yang bisa aku cium setiap kali aku akan keluar rumah.. Masih ada lantunan doa untukku yang keluar dari bibir keduanya..
Allah.. Terima kasih untuk nikmat yang Kau beri ini.. Nikmat yang masih Kau perkenankan untuk aku rasakan.
Sementara di luar sana.. Ada orang lain yang tak tau kemana harus pulang.. Saat ia rindu, ia tak tau kemana harus membawa rasa rindunya..
Wajah orang tuanya hanya bisa hadir dalam bayang-bayang.. Tak ada lagi lantunan doa untuknya, yang ada justu ia berdoa untuk orang tuanya.. Kedua orang tuanya tak lagi disisinya, tapi disisiMu..
Allah.. Aku tak pernah tau sampai kapan aku masih bisa bersama kedua orang tuaku.. Karena itu bantu aku untuk bisa membahagiakan keduanya.. Bantu aku, karena aku tak bisa berbuat apa-apa tanpaMu..
Aku tau, akan ada saatnya aku tak lagi melihat keduanya di rumah.. Akan ada saatnya aku harus sendiri tanpa mereka.. Akan ada saatnya rindu ini tak lagi bertuan..
Allah.. Perpisahanku dengan kedua orang tuaku itu pasti adanya.. Entahlah.. Aku atau keduanya yang akan pergi lebih dulu menghadapMu.. Duhai Allah.. Sebelum perpisahan itu benar-benar tiba.. Bantu aku untuk bisa jadi anak yang sholehah.. Anak yang bisa menjadi amal jariyah bagi keduanya..
Kutulis untuk kedua orang tuaku.. Maaf jika anakmu ini belum sepenuhnya bisa menggapai cita seperti inginmu.. Cita yang aku pun tak tau kapan akan tergenapkan..
Langganan:
Postingan (Atom)